Ancaman ransomware menargetkan kawasan Asia Pasifik

oleh Julie Splinters - -

Para ahli keamanan baru saja mengumumkan bahwa ada sekitar 66 juta serangan ransomware yang terdeteksi sepanjang setengah tahun ini. Sementara Eropa dan Amerika Serikat selalu menjadi target utama, peneliti virus baru saja melaporkan gelombang serius di wilayah APAC (Asia Pacific). Anehnya, India, Indonesia, dan Singapura masuk dalam daftar di antara sepuluh korban, sementara Taiwan dan Thailand ditemukan di posisi terdepan. Tentu saja, para hacker memiliki motif tersembunyi di balik serangan cyber ini. Siapa atau apa tersangka utama dan apa tujuan dari serangan ini di Asia?

Singapura, negara kecil yang terletak di sebelah tenggara wilayah Asia, terkenal karena keunggulan ekonomi dan teknologi. Namun, kemajuan teknologi ini tidak dapat menangkal hacker untuk menyerang negara ini. Saat ini, negara ini menempati urutan ke-12 dalam daftar korban utama. Selain itu, kelompok-kelompok tertentu dari keluarga ransomware yang diamati telah berkeliaran di daerah ini. Meskipun TeslaCrypt telah dihentikan secara resmi oleh pemiliknya, variasinya masih menargetkan penduduk Singapura. Ransomware CryptoWall juga membuat dirinya menonjol di wilayah ini.

Di negara lain, misalnya India, juga telah menjadi korban hacker. Ketika itu ekonom telah memperkirakan terobosan baru pada ekonomi India, dan kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh penjahat cyber untuk menyerang negara ini. Tahun lalu, tercatat lebih dari 430 juta serangan malware. Bisnis dan perusahaan adalah target utama. Spesialis keamanan mengungkapkan bahwa hacker lebih memilih untuk mengeksploitasi kerentanan zero-day. Demikian pula, mereka dapat membobol sistem dengan lebih mudah.

Asia is the current hackers' target

Pindah ke lain topik, bank Indonesia dan Korea Selatan melaporkan pelanggaran data. Penjahat cyber telah berhasil membobol situs resmi dan menonaktifkan mereka. Serangan-serangan ini terjadi terutama dari DDoS (distributed-denial-of-service). Dengan bantuan malware ini, server akan sibuk sehingga mengakibatkan tidak dapat diakses. Untungnya, tidak ada kerugian keuangan.

Melihat gambaran secara umum pada semua serangan ini, orang-orang mungkin menduga Anonymous lah di balik semua serangan ini. Bulan lalu, organisasi ini terakhir mengaku telah meluncurkan Operasi Icarus. Bank di Yunani diserang oleh kelompok ini dengan serangan DDoS yang sama. Tujuan sebenarnya dari niat ini masih belum jelas. Apakah Anonymous hanya mencoba untuk menghancurkan sistem yang ada? Semua pertanyaan ini belum terjawab.

Sangat mungkin bahwa, hacker lain tidak ikut dalam semua ini tetapi mereka mungkin mengeksploitasi kampanye ini untuk keuntungan mereka sendiri dengan menutup jejak mereka dengan teknik hacking yang sama. Kita berharap bahwa dalam waktu singkat semua pertanyaan ini dapat terjawab sehingga dapat mengatasi kerusakan yang telah terjadi. Sampai saat ini, perusahaan dan pengguna independen disarankan untuk memperbarui aplikasi keamanan mereka, memantau keamanan komputer, bekerja sama dengan spesialis IT dan menghindari mengunjungi domain yang mencurigakan.

sumber: http://www.2-spyware.com/8459

Baca juga dalam bahasa lainnya


Data
Perangkat lunak
Bandingkan
Like kita di Facebook